Wednesday, November 19, 2014

Tinggal di Bali

Bali adalah tempat perantauan pertama saya dengan suami saya.
kami tinggal disini sudah hampir 7 bulan dan akan menjadi 8 bulan,karena setelah itu kami harus kembali pulang ke kampung halaman untuk mengurus segala macam keperluan suami saya yang akan melanjutkan kuliah S2nya di Korea Selatan.

Anyway, saya mau memberikan sedikit gambaran tentang biaya hidup selama tinggal di bali.



Pertama kali suami saya dikabari kalau beliau mendapat pekerjaan di bali, kami langsung cari informasi tentang BIAYA HIDUP DAN LINGKUNGAN di Bali. kenapa? karena hal utama yang harus kita siapkan jika kita ingin merantau ke suatu daerah adalah mensinkronisasikan antara biaya hidup dan berapa besar kemampuan  untuk bertahan di daerah tersebut , hal itu juga  agar kami mendapatkan gambaran awal daerah yang kami tuju, baik itu dari segi lingkungan maupun makanan. Karena jangan sampai ketika  tiba di daerah rantauan malah merasakan cultural shock secara berlebihan, yang akhirnya membuat kami hanya bertahan beberapa bulan bahkan minggu saja disana.

Untuk informasi yang kami dapatkan tentang biaya hidup di bali sendiri agaknya sedikit membingungkan kami ketika waktu itu, karena beberapa blog dan artikel mengatakan bahwa biaya hidup disini termasuk mahal, karena disini merupakan daerah wisata sehingga harga disini melabung begitu tinggi, dengan acuan contoh harga minuman keras, restoran, dan tempat-tempat sumber hedonisme lainnya. 
tetapi beberapa blog dan artikel malah mengatakan, bahwa biaya hidup disini sebenarnya murah, tergantung dengan gaya hidup, jika kita orang yang boros dan hedon, kemungkinan kita akan menghabiskan uang yang tidak sedikit untuk bertahan hidup disini. 
Tetapi karena kami pikir bahwa bali berdekatan dengan jawa timur yang biaya hidupnya (sepertinya) lebih rendah dari Jakarta, maka kami setuju dengan pendapat di blog dan artikel ke dua, yaitu " biaya hidup di bali murah, hanya tidak termakan oleh gaya hidup".
Kebetulan waktu itu suami saya dapat pekerjaan di daerah kuta dan berdekatan dengan daerah wisata di Bali, yaitu pantai Kuta.

Akhirnya, kami pun pindah ke Bali.
Setelah berada di Bali, ternyata tingkat urbanisasi di Bali cukup tinggi, karena banyak penduduk yang berasal dari luar pulau Bali untuk mengadu nasib dan mencari penghasilan di Bali, Tetapi sepertinya hal ini kurang disambut baik oleh warga Bali itu sendiri, mungkin  mereka beranggapan kalau "lahan" mereka memperoleh penghasilan menjadi berkurang dan semakin sempit.

Untuk biaya hidup di Bali khususnya Kuta, ternyata tergolong lebih mahal daripada daerah lainnya di bali, karena Kuta adalah salah satu tempat wisata yang paling terkenal, hampir di setiap sudut jalan kami dapat melihat turis lokal maupun mancanegara. Sehingga, tidak heran jika harga makanan dan barang-barang di Kuta relatif  "lebih mahal" dibandingkan daerah lainnya di Bali. Apabila kita ingin makan di salah satu restoran di Kuta, jangan kaget jika kita melihat daftar harga naik menjadi 2X lipat dari biasanya, karena biasanya harga yang di cantumkan dalam daftar harga tersebut adalah harga untuk turis mancanegara. Tetapi jika beruntung, harga tersebut tidak berlaku untuk kita sebagai orang indonesia, dan biasanya ketika kita hendak membayar tagihan makanan tersebut,  daftar harga di bill pembayaran kita menjadi harga normal dan tidak naik 2 kali lipat (tidak sesuai dengan daftar harga).
(sebagai contoh, makan di M* JUI*E, Mall Ga**** kisaran harga nasi goreng menjadi Rp 46.000
tetapi ketika kita membayar tagihan, hanya Rp 26.000.)


Selain makanan, Biaya tempat tinggal di daerah kuta melambung sangat tinggi. karena mungkin keterbatasan lahan sehingga jarang ditemukan kawasan perumahan di Kuta, hal ini membuat para penduduk asli bali berlomba-lomba membangun guest house/ homestay/ kos-kosan di sekitar area lingkungan rumahnya. dengan kisaran harga mulai dari Rp 1.000.000 - Rp 2.000.000.
(untuk harga >  Rp 1.500.000 biasanya sudah ada AC di kamarnya, tetapi belum termasuk listrik).
(nb: Disini rumah kontrakan atau sejenisnya  sulit di temukan. sehingga banyak penduduk yang masih single atau berkeluarga memilih tempat tinggal berupa guest house/ homestay/ kos-kosan)

Untuk kebutuhan sandang dan rumah tangga lainnya, sebaiknya pintar-pintar memilih tempat belanja dan bukan di area pertokoan/mall para wisatawan, hal ini untuk menghindari pemberian harga turis. Karena harga-harga di pertokoan/mall dapat melambung hingga  20%  atau mungkin lebih besar disini. Bahkan harga awal barang yang dikenakan diskon besar-besaran pun sangat mahal, sehingga sepertinya diskon tidak terlalu berpengaruh banyak pada mahalnya harga barang yang dijual.

Tetapi setelah kami tinggal di Bali, kami jadi sering berkeliling melihat tempat wisata-wisata yang belum pernah kami kunjungi sebelumnya. dan salah satu keuntungan tinggal di Kuta adalah jika kami merasa jenuh, kami dapat pergi ke pantai kuta atau pantai segara untuk menjernihkan pikiran kami, tanpa harus merogoh kocek yang mahal, cukup keluarkan uang RP 2.000 kami dapat menikmati indahnya pantai di kuta bali. :D



Jadi, menurut saya biaya hidup di bali "sedikit" lebih mahal, mungkin salah satu faktonya adalah karena bali tempat wisata yang paling di kenal di Indonesia. oleh karena itu, harus pintar-pintar dalam mengatur biaya hidup dan  mengontrol gaya hidup selama di Bali yaa........... ;)






Sunday, November 16, 2014

Ibu Rumah Tangga

Assalamualaikum,Hai semua, tulisan pertama saya di blog ini, saya akan berbagi gimana rasanya jadi ibu rumah tangga.Rasanya? harapan hampir semua kaum wanita. hahaha sebenarnya dulu pernah kepikiran jadi ibu rumah tangga, tapi karena idealisme waktu mahasiswa  minat jadi ibu rumah tangga sempat beralih menjadi wanita karir. Setelah nikah akhirnya malah jadi ratu di rumah, Yeay! Dulu saya sempat kerja di salah satu perusahaan di jakarta, tapi entah kenapa kayak suka ada bisikian kalau "tempat-kamu-bukan-disini" hi serem yaa, mungkin itu naluri ibu rumah tangga. :p
Udah hampir setahun saya memiliki status ibu rumah tangga, seneng rasanya bisa urus rumah dan kebutuhan suami sendiri mulai dari bersih-bersih dan lain-lain sebagainya.Bagi saya, menjadi ratu di rumah adalah anugerah haha,karena saya bisa memiliki banyak waktu luang yang dapat saya gunakan untuk melakukan hal-hal yang biasanya jarang saya lakukan. (contohnya? nulis blog ini) hihihiUntuk awalnya, mungkin kita merasa sedikit bosan di tambah  risih dengan banyak pertanyaan "gimana rasanya jadi ibu rumah tangga?", dan yang pasti yang kita butuhkan adalah adaptasi. Tapi lama kelamaan saya sadar kalau sebenarnya ini bukan masalah besar, toh saya sangat menikmati segala macam pekerjaan di rumah, mulai dari bersih-bersih, masak, dan belanja kebutuhan rumah. Diwaktu luang, saya dapat mengisinya dengan nonton televisi, membaca buku, menulis, cari resep makanan (praktis) dan melalukan hal lainnya yang agak sulit saya peroleh jika saya berada di luar rumah. Ketika saya masih di Cilegon, saya juga dapat mengikuti berbagai kegiatan dilingkungan sekitar, seperti pengajian atau kursus-kursus yang dapat meningkatkan kualitas diri saya sebagai perempuan. Beberapa bulan lalu, saya juga sempat mengikuti kursus bahasa inggris untuk mengasah kemampuan bahasa inggris saya yang masih berantakan.Pekerjaan ibu rumah tangga sebenarnya tidak hanya membereskan rumah, tetapi juga mengatur anggaran keuangan rumah tangga, membuat paket liburan dan membuat berbagai macam anggaran juga perencanaan keberlangsungan kehidupan rumah tangga (halah.) tetapi, untuk hal tersebut saya masih di bantu oleh suami, (terimakasih suami tercinta :))Jika sudah memiliki anak, pekerjaan ibu rumah tangga menjadi bertambah seru, karena kita akan merawat anak kita mulai dari dia bangun tidur hingga tertidur kembali, dan kita dapat mengetahui setiap perkembangannya. hiii senengnyaa..... :3
jadi intinya, pekerjaan ibu rumah tangga tidak sulit, tetapi tidak mudah, dan (tetap) diperlukan ketelatenan, ketelitian, terutama kepekaan kita menjadi seorang istri dan ibu.
Saya pribadi saat ini masih menyadari banyak kekurangan saya sebagai ibu rumah tangga, saya masih harus banyak belajar untuk menjadi lebih baik dalam mengurus berbagai kebutuhan rumah tangga, dan saya berharap saya dapat menjadi  seorang istri sekaligus ibu yang terbaik dimata suami dan anak-anak saya kelak.:")


 "I have become a housewife and there is no better job"- Celine Dion