Wacana ke Jepang sebenarnya sudah kamj bicarakan sejak hari pertama di Bali (bulan April), tiba tiba pak suami nyeletuk " De, selanjutnya kita liburan kemana?", aku ga kepikiran akan wisata ke tempat sejauh Jepang dengan perjalanan 7 jam selama di Pesawat, jadi aku jawab " singapura gimana? Malang gimana?" Karena menurutku Singapura tempat yang sangat baby friendly dan aku sudah ada gambaran untuk wisata kesana. Sementara Malang juga menurutku salah satu destinasi yang wajib dikunjungi para pencinta traveling, karena pariwisata disana sudah semakin lengkap dan menarik . Awalnya aku kira itu hanya wacana yang terlaksana paling cepat 1 atau 2 tahun lagi, tidak akan terlaksana dalam waktu sedekat ini karena kami tidak ada gambaran dan persiapan untuk traveling jauh bertiga bersama bayi.
Di bulan juli, ketika kami lagi bercengkrama di rumah, pak suami iseng buka aplikasi traveloka kemudian bilang "de, apa kita beli tiket sekarng ya?", kemudian ku tanggapi dengan santai " beli aja, daripada nanti nyesel", seketika itu juga pa suami membeli tiketnya untuk bulan Oktober. Setelah membeli tiket, kami mulai mencari info tentang visa dan info persiapan membawa bayi selama perjalanan jauh.
Itinerary kali ini lumayan bikin aku ngulik mbah google tentang daerah wisata, transportasi, dan penginapan selama disana. Aku coba mencari penginapan dan rute perjalanan yang sejalan, agar tidak menghabiskan waktu untuk bulak balik naik subway.
Hari 1: Sampai Osaka 22.00
Hari 2 : Osaka Castle - Shitennoji Temple - Dotonbori- Glico Sign - Sinseibashi Shopping Arcade
Hari 3 : Fushimi Inari Shirine - Gion district
Hari 4 : Universal Studio Japan
Hari 5 : Sumiyoshi Taisha - Sumiyoshi Taisha Park
Hari 6 : Pulang Ke Indonesia
Itinerary ini adalah hasil bulak balik liat peta di Gmaps dan jalur subway disana, aku juga sudah mecoret beberapa tempat wisata yang tidak memungkinkan untuk kami kunjungi, karena keterbatasan waktu.
Subway map
Selama di Osaka, kami menggunakan one way ticket subway setiap perjalanan. Kami dibantu oleh aplikasi JAPAN TRAVEL by NAVITIME, aplikasi tersebut sangat membantu, navigasinya pun sangat akurat dan mudah digunakan.
Awalnya aku mau beli sim card/ sewa wifi selama di sana, tapi ternyata kartu yang ku gunakan (XL) bisa roaming ke luar negeri, jadi aku mengaktifkan paket data roaming ku selama 7 hari, dengan biaya 250 ribu. Cara mengaktifkan data roamingnya pun mudah, tinggal download aplikasi my XL, lalu pilih paket data yang diinginkan.
Hari 1
Setelah kami melewati bagian imigrasi di Bandara Haneda , kami langsung mengambil koper, dan memesan tiket bus untuk transfer bandara ke Narita. Tak lama setelah kami memesan tiket dan menunggu di depan pintu bandara, bus yang akan mengantarkan kami pun datang tepat waktu. Selama diperjalanan suamiku sangat khawatir, takut kami akan ketinggalan penerbangan selanjutnya menuju Osaka. Perjalanan dari bandara Haneda menuju bandara Narita menempuh jarak sekitar 79 km atau satu jam jika ruas jalan normal, sementara kami hanya mempunyai waktu 3 jam untuk tranfer bandara berikutnya. Tiba tiba gerimis datang, dan jalanan mendadak padat merayap, kami pun hanya bisa pasrah agar tiba tepat waktu di bandara Narita.
Akhirnya kami sampai di bandara Narita tepat waktu, tidak menunggu lama kami pun segera boarding menuju bandara Itami, Osaka.
Sesampainya di Osaka, kami segera ke Stasiun Itami menuju Stasiun Honmachi, exit 3(420 JPY) , stasiun terdekat dari hotel tempat kami menginap.
Kami menginap di "WBF Kitasemba West Hotel" , lokasinya sangat strategis, sekitar 12 menit menuju Sinsheibashi Shopping Arcade.
Biaya permalam WBF Kitasemba West adalah Rp 830.000/ malam untuk kamar standar twin, sudah termasuk sarapan via booking.com okt 2019. Kamar nya tidak besar, tapi fasilitas hotelnya sangat lengkap, ada Free ramen setiap pkl 21.30 - pkl 22.30 untuk para guest hotelnya.
Setelah merapihkan barang bawaan, mandi dan makan malam yang kami beli di convention store, kamipun istirahat agar besok kembali bugar setelah seharian menempuh perjalanan Jakarta-Osaka.
Hari 2
Hari ini kami bangun agak kesiangan, habis mandi kami bergegas turun ke bawah untuk sarapan. Selain daging, ayam dan telur, beragam seafood tersedia disini. Setelah aku dan suami makan, kini giliran aku menyuapi anakku makan, beruntung perjalanan kali ini nafsu makan anakku lagi bagus, jadi dia bisa makan apapun yang ada tanpa milih milih makanan.
Ketika kami keluar hotel ternyata hujan turun, kami mampir ke convention store untuk membeli payung, dan segera menutup stroller dean dengan rain cover yang kami bawa dari Indonesia. Hujan bukan penghalang kami hari ini untuk jalan jalan berkeliling Osaka. kami memasuki stasiun honmachi menuju stasiun morinomiya, exit 3-A (180 JPY), stasiun terdekat dengan Osaka Castle.
Sesampainya disana, hujan mulai reda jadi kami bisa lebih leluasa berjalan jalan, udara disana sangat sejuk setelah hujan tapi langit belum kembali berwarna biru cerah.
Keluar dari stasiun morinomiya kami harus berjalan sekitar 650 m untuk sampai di Taman Osaka Castle.
Taman Osaka Castle dibuka 24 jam setiap hari, dan tidak ada biaya masuk untuk dapat berjalan jalan ditaman ini. Disini ramai sekali, baik anak kecil hingga kakek nenek semua sangat menikmati pemandangan yang ada di taman ini. Burung merpatipun menyambut para wisatawan dengan terbang kesana kemari di sekitar taman dan bermain dengan anak anak.
Osaka Castle merupakan simbol Osaka yang terkenal, didalamnya terdapat museum peninggalan budaya jepang, seperti cerita sejarah, diorama, maket , dan baju perang jaman dahulu. Museum ini dibuka dari pkl 09.00- pkl 17.00 setiap hari (last addmision 16.30), tapi ketika musim sakura tiba, jam bukanya diperpanjang hingga Pkl 21.00. Biaya masuknya 600 JPY untuk dewasa, sementara untuk pelajar SMP atau dibawahnya, tidak dikenakan biaya sama sekali. Karena kami membawa bayi, dan khawatir dia tidak mau diem atau pegang barang selama di museum, maka kami tidak masuk museum tersebut.
Setelah berjalan jalan di taman Osaka Castle, kami melanjutkan perjalanan menuju Shitennoji Temple. Untuk sampai disana kami harus ke stasiun tanimachiyonchome - stasiun Shitennōji-mae Yūhigaoka dengan biaya 180 JPY,
Sesampainya disana, ternyata lagi ada flea market di bagian depan Shitennoji temple , yang menjual buku pelajaran, komik, majalah, dan barang bekas lainnya dengan harga sangat miring. Setelah melihat melihat sekitar flea market tersebut kamipun mencari tiket booth , tapi sayangnya Shitennoji temple sudah tutup, karena kami tiba terlalu sore. jadi kami hanya berfoto ria dibagian pintu masuknya saja.
Shitennoji temple adalah kuil pertama yang di bangun oleh pemerintah Jepang, dan di jadikan pusat pembelajaran agama budha di Osaka. Yang menarik dari kuil ini adalah pagoda tingkat 5 nya atau biasa disebut pagoda gojutou. Jadwal operasional kuil ini setiap hari dari pkl 08.00-16.00, dengan biaya masuk 500 JPY untuk dewasa dan 300 JPY untuk siswa SMA-Mahasiswa.
Karena sudah senja,kami segera keluar dari area Shitennoji temple, menuju landmark osaka berikutnya, dotonbori street. Perjalan menuju dotonbori ditempuh dari stasiun tennoji - stasiun osaka namba, (230 JPY).
Tak terasa langit sudah semakin gelap ketika kami sampai di pintu exit 14, kami masih harus berjalan beberapa meter untuk sampai di dotonbori street. Dengan bantuan Gmaps akhirnya kami sampai di Jalan dotonbori, disana kami mencari tempat makan untuk makan malam, setelah perut dan tenaga sudah terisi kembali, kami menggunakan Gmaps untuk mencari lokasi Glico Man Sign, tak jauh dari dotonbori street. Dari pinggir jalan sudah terlihat banyak orang yang lagi asik menikmati salah satu landmark Osaka tersebut. Semua orang berfoto disana seolah tidak ingin melewatkan untuk mengabadikan moment melihat Glico Man Sign. Tepat di depannya terdapat tempat makan yang terkenal, bernama Ichiran Ramen (no pork ramen), ketika kami masuk ke sana antriannya panjang sekali, jadi kami urungkan niat untuk mencicipi ramen tersebut.
Dari Glico Man Sign kami kembali melihat peta untuk mencari rute tercepat agar sampai di hotel, ternyata jarak dari glico man sign menuju hotel kami menginap tidak terlalu jauh dan dapat ditempuh sekitar 2 km dengan berjalan kaki melewati area pusat perbelanjaan Shinsaibashi. Kamipun memilih untuk berjalan kaki sambil menikmati suasana osaka malam hari di area tersebut. Sepanjang jalan dipenuhi oleh orang yang berlalu lalang sambil membawa barang belanjaan, berbagai macam toko oleh oleh ada disana, jajanan pinggir jalan pun ikut meramaikan dagangan sepanjang jalan tersebut.
Tidak terasa kami sampai di hotel sudah larut malam, anak dan suamiku langsung berendam di air panas untuk menghilangkan lelah setelah seharian berjalan kaki, naik turun tangga, dorong-angkat stroller. Setelah semua selesai mandi dan beres beres kamipun istirahat untuk persiapan tenaga di esok hari.
Hari 3
Pagi pagi kami sudah keluar hotel menuju stasiun yodoyabashi ke stasiun shinosaka 230 JPY.
Kami berangat sekitar pkl 08.00 dan berharap tidak ada hambatan selama perjalanan, tetapi subway yang kami tumpangi tidak jalan (kalau bahasa sininya, ngetem), kami agak kesal menunggu karena perjalanan kami hari ini jauh ke kyoto, kami berharap agar tidak lama dijalan. tiba tiba ada pengumuman bahwa telah terjadi kecelakaan antara kereta dan manusia, yang menyebabkan kematian (bunuh diri), kami mulai bersabar dan berharap segera selesai penyidikannya. Hampir sekitar satu jam-an akhirnya keretapun mulai berjalan menuju Shin Osaka station. Di sana kami transfer untuk naik shinkansen menuju kyoto. Shinkansen sering disebut kereta peluru karena kecepatannya adalah 300km/jam. Biaya dari Shin Osaka menuju Kyoto dengan menggunakan kereta api ini sekitar 1420 JPY, dapat ditempuh dalam 15 menit.
Kereta kami pun akhirnya berhenti di stasiun Kyoto, tujuan kami ada Fushimi Inari Taisha untuk dapat kesana, kami harus berpindah kereta ke jalur yang berbeda di stasiun Kyoto menuju stasiun Inari, 770 JPY.
lokasi Fushimi inari bersebrangan dari stasiun inari, disini sudah ramai banyak pengunjung dari berbagai negara, karena tidak mau membuang waktu, kamipun segera menuju gapura torri, gappura yang terkenal di Jepang. Sepanjang jalan gapura torri, banyak orang berfoto sejenak sambil menikmati keindahannya. Tidak pernah terbanyangkan akhirnya aku bisa kesini melihat langsung beribu gapura berwarna vermillion, yang tiap tiangnya bertuliskan kata kata yang dicat dengan warna hitam. Di sini banyak sekali patung rubah, sebagai kepercayaan masyarakat jepang bahwa rubah adalah utusan para dewa inari untuk mengantarkan pesan atau membantu dewa pangan.
Karena rute perjalanan gapura torri masih jauh, ditengah perjalanan kami mengambil jalan keluar untuk mencari makanan.
Disekitar jalan keluar dari area fushimi inari taisha banyak yang berjualan makanan dan sovenir. Kami berhenti untuk membeli makan siang, dan beristirahat.
Tak lama berhenti, kami melanjutkan perjalanan menuju Gion district, untuk dapat kesana kami harus ke stasiun inari menuju stasiun higashiyama 410 JPY.
Di Gion kami menikmati suasana khas jepang, bangunan bangunannya sangat kental akan budaya jepang, hal ini dilengkapi dengan para wisatawan yang berpakaian kimono/yukata ala jepang yang membuat suasana terlihat semakin tradisional. Aku dan suami terbawa suasana ingin mencoba kimono jepang, kami mencari rental kimono terdekat disekitar gion, kamipun menemukan dari Gmaps "Okamoto Rental Kimono", harga sewa kimono/yukata mulai dari 3.240 JPY. Buka dari jam 09.00-20.00, tapi penyewaan baju harus dikembalikan tepat pkl 18.00 jika telat beberapa menit akan dikenakan fee tambahan. Lokasi rental kimono ini berada di sebelah kiri Gyokki inari shrine.
Pengalaman memakai kimono ini sangat berkesan, aku jadi tahu tata cara dipakaikan kimono, petugasnya sangat menjunjung tinggi tata krama. Kebetulan saat itu, anakku sedang tidur jadi yang memakai kimono/yukata hanya aku dan suamiku. Setelah kami siap dengan kimono/yukata, kami segera jalan mengelilingi gion district mencari spot untuk berfoto dengan pakaian kami, baru saja kami mengeluarkan tripod, anakku sudah bangun dan minta di gendong. Kamipun foto bertiga, tapi sayang sekali dia tidak ikut memakai yukata.
Hari sudah malam, setelah berkeliling gion, kami kembali lagi untuk mengembalikan kimono/yukatanya. Lalu kami ke stasiun higashiyama menuju kyoto 260 JPY,
Dari kyoto kami memesan tiket kereta shinkansen (1420 JPY) untuk mempercepat perjalanan pulang ke osaka. Di osaka kami berhenti di stasiun Shinosaka, dan masih harus transfer kereta menuju yodoyabashi (230 JPY).
Selesai sudah perjalanan kami yang cukup jauh hari ini, setelah bulak balik stasiun akhirnya kami kembali ke hotel dan bisa beristirahat.
Hari 4
Hari ini kami berangkat agak siangan, karena kami hanya ke satu tempat tujuan, yaitu Universal Studio Japan (USJ), kami sudah membeli tiket USJ via traveloka, Rp 1.062.000/orang, kami membeli 2 tiket masuk karena Anak dibawah 4 tahun belum dikenakan biaya masuk.
Kami berangkat dari stasiun Yodoyabashi- stasiun universal city (360 JPY).
Aku sangat bersemangat kesini, karena salah satu arena disini bertema Harry Potter yang aku idam idamkan sejak jaman SD dahulu. Aku ingin sekali melihat Hoghwarts School, atau berjalan di Hogsmaede, walaupun hanya sekedar replika tapi aku sudah sangat senang sekali. Ini pertama kalinya aku memasuki Universal Studio, aku sangat takjub karena setiap bagian memiliki tema dari film layar lebar yang dibuat seolah olah kami berada dalam dunia di film tersebut. Semuanya sangat detail, bahkan sampai ke nama jalan nya pun dibuat sama dengan yang ada dalam film.
Semakin siang semakin ramai disini, ditengah tengah keramaian ternyata ada pawai yang akan mengelilingi USJ, membuat jalanan disana semakin padat merayap, aku dan suamiku menepi mencari tempat duduk sebentar untuk berisitirahat. Tak lama menepi, kami melanjutkan perjalanan lagi ke bagian Jurassic park dan minions.
Setelah mendatangi hampir tiap sudut tempat di USJ, kami keluar pintu exit , tidak lupa kami foto di ikon Universal Studio yang berada tepat di depan pintu keluar tersebut. Pulangnya kami menempuh jalur yang sama seperti ketika berangkat, yaitu stasiun universal city-stasiun yodoyabashi (360 JPY).
Hari 5
Aku mendapatkan kabar dari teman suamiku, ka azkiya yang tinggal dijepang, bahwa akan ada badai di jepang dan semua jadwal penerbangan besok akan di batalkan. Jadi, sebelum melanjutkan itinrary kami hari ini, suamiku mencari info untuk mendapat kepastian status penerbangan kami besok. Tiba tiba suamiku mendapat email, benar sajaa kalau semua jadwal penerbangan besok dibatalkan dan dapat di reschedule beberapa hari setelahnya. Tak pikir lama, kamipun menambah dua hari menginap di Hotel WBF Kitasenbawest untuk berjaga jaga, sambil menunggu mendapatkan jadwal penerbangan yang baru.
Kami melanjutkan ittenerry kami di siang hari, ke Sumiyoshi Taisha . Dari stasiun honmachi menuju stasiun stasiun sumiyoshi taisha 390 JPY.
Jam buka kuil ini untuk bulan oktober hingga maret 06.30-17.00, tidak ada biaya masuk untuk dapat masuk ke kuil ini.
Sumiyoshi taisha merupakan salah satu kuil shinto tertua di Osaka. Area kuil tersebut dikelilingi oleh pepohonan yang rindang, Disana juga terdapat jembatan yang bernama jembata Sorihashi yang terkenal karena keindahan pemandangannya dari bagian atas jembatan.
Sebelum kembali ke hotel kami bermain dulu di Sumiyoshi Park, lokasinya dekat dengan kuil Sumiyoshi Taisa. Disana banyak permainan anak anak seperti ayunan, perosotan, dan jungkitan. Tamannya bersih, dan banyak di hinggapi oleh burung dara.
Karena sudah sore, dan kami harus mengurus kembali perubahan jadwal penerbangan, maka kami segera kembali ke hotel, dan berharap mendapatkan tanggal kepulangan ke Indonesia segera.
Bersambung~~~~