Monday, November 11, 2019

Keluarga Pak Faris Liburan di Bali

Wisata kali ini kami (aku dan suami) ingin bernostalgia di pulau dewata bali. Awal kami menikah, suami diterima kerja di Bali hingga kamipun pindah kesana, tepatnya didaerah kuta.
Tapi wisata kali ini, kami ingin mencoba daerah baru, yaitu Ubud, yang belum pernah kami datangi selama tinggal di sana. 

Selain Kuta, Ubud pun dikenal sebagai salah satu daerah wisata di bali, banyak turis asing yang mendatangi kecamatan tersebut, bahkan perfilman hollywood pun pernah mengambil lokasi disana untuk film "Eat Pray Love", menceritakan tentang seorang wanita yang ingin mencari ketenangan lahir dan batin, hingga dia mendapatkan semangat hidup kembali di sana.

Ittenary selama kami di Bali 4D3N, 
Hari 1 : sampai di Bali - istirahat
Hari 2 : Pura Saraswati - Ubud Art Market - Monkey Forest -Tegalalang Rice Terrace
Hari 3 : Krisna (oleh oleh) - transfer ke kuta - Beachwalk Mall
Hari 4 : Pantai Kuta - pulang ke JKT.

Ketika kami sampai di bandara kami disambut oleh bangunan pura dan harumnya aroma sesajen, yang biasa disebut banten, aromanya sangat khas membuatku flashback beberapa tahun yang lalu ketika kami baru pindah.





Perjalanan dari Bandara Ngurah Rai, kuta menuju Ubud cukup jauh dan memakan waktu sekitar 1,5 jam, karena tidak mau repot jadi kami menggunakan jasa antar jemput dari penginapan untuk menjemput kami dibandara. Untuk mengunakan jasa tersebut dikenakan biaya tambahan jasa jemput sebesar Rp 400.000/ sekali jalan. 

Hari 1
Setelah 1.5 jam perjalanan akhirnya kami sampai di "ALAM SEMBUWUK RESORT BALI". Kami dapat info resort ini dari aplikasi booking.com setelah itu aku mencari instagramnya untuk memastikan resortnya @alamsembuwukresort, karena sesuai dengan ekspektasi akhirnya kami booking kamar deluxe dengan vie kolam renang dan dapat sarapan terapung di kolam hanya sekitar Rp 620.000.
Kamarnya sangat luas dan langsung berhadapan dengan kolam berenang, bagian balkonnya juga sangat nyaman, terdapat jemuran kecil untuk menjemur handuk renang. Bagian belakang dan samping resort terlihat sangat asri, karena di kelilingi oleh sawah dan perkebunan.  lokasi resort sangat cocok untuk wisatawan yang ingin mencari ketenangan karena cukup jauh dari keramaian dan hiruk pikuk perkotaan. Disanaa juga terdapat cafe Alam Sembuwuk yang  buka hingga malam hari.





















Hari 2
Sekitar jam 09.00 pagi kami sudah bersiap siap untuk pergi, rencana awal kami ingin menyewa mobil lepas kunci selama di ubud tapi ternyata disana kami sulit menemukan penyewaan mobil yang lepas kunci,  Ubud berbeda dengan kuta, yang banyak tempat penyewaan mobilnya. Beberapa malah menyarankan untuk sewa mobil dari kuta kemudian dibawa ke ubud, tapi kami keberatan karena harus bulak balik perjalanan. Kemudian, disana kami berharap banyak gocar/grabcar yang hilir mudik, tapi ternyata ketika kami buka aplikasi tidak mudah mendapatkan gocar/grabcar yang mau mengantar kami ke tempat tujuan. Sampai akhirnya ada salah satu driver yang menawarkan untuk mengambil paket jalan jalan seharian, jadi dia menawarkan untuk mengantar kami hingga full satu hari dengan bayaran Rp 400.000 ke berbagai tempat yang kami ingin kunjungin.  Karena takut keburu siang, maka kami meng-iyakan untuk menggunakan jasa driver tersebut. 

Tujuan pertama kami adalah pura Saraswati, untuk masuk ke pura ini tidak dikenakan biaya alias gratis. Pura ini merupakan salah satu pura yang populer dikalangan wisatawan karena berada diarea pusat ubud. Lokasinya dapat diakses dari jalan kanjeng yang dekat dengan jalan raya ubud, tepatnya ada dibelakang cafe lotus ubud dan starbucks. jalan menuju pura ini dipenuhi oleh tanaman teratai yang membuat pura ini terlihat lebih cantik.













Setelah dari pura saraswati kami mampir ke Ubud Art Market, lokasinya tak jauh dari pura saraswati dan dapat dijangkau dengan berjalan kaki. Ubud Art Market menjual berbagai macam kerajinan tangan khas bali, mulai dari baju, kain bali, hingga pernak pernik bali ada disana. Disana bisa tawar menawar harga sebelum membeli barang, agar dapat harga yang cocok antara penjual dan pembeli.











Tujuan selanjutnya adalah Ubud Monkey Forest, berada di jalan monkey forest ubud, gianyar bali.  Monkey Forest ini merupakan hutan lindung yang didalamnya terdapat pura sakral umat Hindu Bali, bernama Pura Dalem Agung Padangtegal.
Untuk dapat masuk ke Monkey Forest perlu mengeluarkan biaya sebesar Rp 80.000 untuk dewasa, dan Rp 60.000 untuk anak- anak (belum termasuk parkir), tahun 2019. Jam buka Monkey Forest dari jam 08:30 – 18:00 WITA, waktu terakhir membeli tiket pukul 17:30 WITA. Selama didalam Monkey Forest sebaiknya perhatikan panduan berwisata, karena ada beberapa hal yang dilarang dilakukan selama kita berada dalam hutan tersebut, seperti, merokok, memberi makanan pada kera, Tidak boleh menyakiti kera, dan lain sebagainya. Hati hati jika membawa barang berharga atau makanan/minuman, karena kera kera disana sangat tertarik dengan hal yang berbau makan/minum juga buat jaga jaga jika ada barang yang tak sengaja diambil oleh para kera. Beberapa kera juga ingin berinteraksi dengan manusia, kadang ada kera yang tiba tiba loncat ke tangan atau punggung pengunjung. Jika pergi bersama anak kecil, usahakan bawa lotion anti nyamuk, agar terhindar dari gigitan nyamuk yang ada di hutan tersebut.

















Karena waktu sudah siang, dan masuk jam makan siang maka kami pun melanjutkan perjalanan mencari tempat makan. Driver kami menyarankan makan di Sekitaran daerah Tegalalang Rice Terrace Ubud, disana banyak sekali cafe dan tempat makan yang berjejer sekitar Rice Terrace, selain menu makanannya yang disajikan cukup menggoda, suasanaya pun sangat menyejukan mata. Akhirnya kami masuk ke salah satu tempat makan disana yang bernama "Rice Terrace Caf'e". Cafe ini buka hingga pukul 20.00, harganya memang premium untuk wisatawan lokal tapi pemandangannya sangat bagus. 
Sambil menikmati makan siang kami dapat melihat dari kejauhan permainan bali swing (ayun ayunan) dan beberapa spot foto yang dibuat semenarik mungkin yang menghadap ke rice terrace. Angin sepoi sepoi membuat suasana disana semakin sempurna dengan warna hijau dari tanaman padi yang masih muda,terlihat dari wajah orang orang disana sangat menikmati suasana Tegalalang Rice Terrace.




Setelah selesai makan siang kami kembali ke resort. Suami dan anakku ga sabar ingin berenang dan menikmati pemandangan disana.

Kolam berenang disini bersih sekali, dan kebetulan lagi tidak ada yang berenang, jadi anak dan suamiku lebih leluasa bermain di kolam.
Untungnya kami bawa ban kecil dari rumah karena disana tidak disediakan ban.





Hari 3
Sarapan pagi ini kami ditawari untuk floating breakfast, tapi sayangnya harus menunggu sekitar 30 menit untuk antri dengan guest lain, kebetulan kami sudah lapar jadi kami tidak mengambil kesempatan untuk floating breakfast. Setelah sarapan suami dan anakku langsung nyebur berenang, Sambil nunggu mereka selesai berenang aku packing barang barang karena kami akan pindah hotel ke daerah sekitar pantai kuta.



Selesai suami dan anakku berenang kamipun siap siap menunggu mobil jemputan. Suamiku sudah buat janji dengan driver yang kemarin mengantarkan kami jalan jalan untuk memintanya mengantarkan kami ke penginapan yang dikuta. Biaya yang driver tersebut tawarkan untuk sampai dikuta  adalah Rp 600.000 karena perjalananya cukup jauh, tidak ada biaya tambahan seperti bensin atau tol. 

Sebelum menuju kuta, kami minta diantarkan dulu ke toko oleh oleh yang terkenal di bali yaitu "Krisna".  Ternyata Krisna di ubud lebih besar daripada Krisna yang berada di Kuta, parkirannya pun jauh lebih luas.









Sekitar jam 3an selesai dari Krisna kami langsung menuju ke Kuta. Di Kuta kami menginap di Fave Hotel dengan kamar Standard Double, seharga Rp 340.000 via booking.com , dengan harga segitu kami sudah mendapat sarapan pagi untuk dua orang, tapi sayangnya menurutku kamarnya tidak terlalu besar walaupun sangat pas untuk kami bertiga. di sini juga disediakan kolam berenang untuk para tamunya 

Setelah istirahat sebentar, sekitar pukul 17.30 kurang lebih 800 m kami berjalan kaki dari penginapan menuju Beachwalk Mall. Suasana disana sudah mulai gelap dan terlihat sunset dari kejauhan cantik sekali. Sesampainya di Beachwalk kamipun langsung mencari makanan karena sudah masuk jam makan malam, di bagian atas Beachwalk ada foodcourt yang menyediakan berbagai makanan khas bali. suasana malam bali terlihat sangat indah dari sini, di hiasi dengan lampu lampu yang berkelap kelip.















Karena kami sudah lelah jadi selesai makan kami langsung kembali ke penginapan dengan menggunakan grabcar agar cepat sampai. Grab/gocar di kuta sangat banyak dan sangat mudah didapat, sangat berbeda dengan di Ubud.

Hari 4
Sore ini kami kembali ke Jakarta, tapi sebelum persiapan pulang, paginya kami menyempatkan untuk mengunjungi pantai Kuta.  Jadi setelah sarapan kami menuju pantai kuta, lokasinya hanya 400m dari penginapan kami. 

Untuk bisa masuk ke pantai kuta tidak dikenakan biaya masuk dan tidak ada jam buka tutupnya, jadi wisatawan bisa bebas bulak balik ke pantai ini. Di pagi hari saja sudah banyak pengunjung yang datang dan mencari matahari pagi sambil menikmati suasana pantainya.
Aku dan suamiku sangat menikmati pemandangannya sambil kami bernostalgia disini, karena ketika kami dibali hampir setiap hari sepulang suami kerja, kami mampir ke pantai ini yang jarakmya sangat dekat dengan tempat tinggal kami saat itu.



Selesai bermain pasir dan air pantai, kami pun kembali ke penginapan untuk  istirahat dan persiapan pulang ke Jakarta.
Senang rasanya bisa kembali ke bali setelah beberapa tahun, dan sekarang kami  mengajak anak kami untuk berkunjung kesana. 

Oia, jangan lupa jika pergi ke bali makan nasi Jinggo dan makanan khas bali lainnya yang aku tidak sempat mendatanginya. Sebenarnya masih ada beberapa tempat yang ingin kami kunjungi dan beberapa makanan yang ingin kami makan selama di bali untuk bernostalgia, tapi karena keterbatasan waktu dan tenaga maka tidak semuanya bisa kami lakukan  saat itu, semoga kami bisa kembali lagi kesana di lain kesempatan. bali merupakan daerah wisata yang memiliki daya pikat tersendiri sehingga orang yang mengunjunginya pasti ingin kembali lagi kesana untuk menikmati suasananya.