Thursday, December 12, 2019

tinggal di Apartemen? why not

Apartemen atau Rumah?
Awalnya pertanyaan itu terus menghantuiku, apalagi apartemen yang aku tempati sekarang berita negatifnya lebih banyak beredar dibanding dengan berita positifnya.  Ketika suamiku dapat kerja di Jakarta aku juga tadinya ragu untuk memilih tinggal di apartemen yang notabanenya penduduknya lebih individualis dibanding dengan perumahan. Tapi mencari kontrakan rumah dijakarta tidak semudah membalikan telapak tangan, karena kami harus melihat kondisi rumah juga lingkungan sekitarnya apakah cocok dengan harapan kami atau tidak.  ketika itu kondisiku lagi hamil jadi pencarian tempat tinggal kami dijakarta hanya sebatas pencarian via internet saja. 

Setelah menikah aku dan suami hanya sekali menempati tempat tinggal lebih dari satu tahun, yaitu ketika dikorea kami menyewa apate one room. Ini merupakan tempat tinggal paling lama yang kami tempati ketika itu, yaitu 2 tahun. Sebelumnya kami berpindah pindah tempat mulai dari tinggal di rumah tante yang sudah yang lagi tidak ditempati selama 5 bulan, dikontrakan selama 3 bulan (padahal udah bayar sewa untuk 6 bulan kedepan), dan di indekost selama 8 bulan ketika di bali. 

Setelah kembali dari korea, sekitar tahun 2018 awal, kami sempat tinggal di perumahan cilegon, tempat tinggal milik keluarga, kami orang pertama yang menempati rumah tersebut karena masih baru. Menurutku rasanya nyaman tinggal didalam perumahan, aku dengan mudah dapat mengenal tetangga sebelah, ditambah dengan acara arisan, posyandu dan kegiatan rutin RT-RW lainnya yang dapat memperat hubungan silaturahmi antar warga.

Karena pak suami diterima kerja di Jakarta, maka kami harus kembali berpindah tempat tinggal dari Cilegon. Melalui situs pencarian akhirnya kami menemukan apartemen yang strategis lokasinya dan sesuai dengan budget kami. Kami memilih apate karena saat itu kami tidak yakin akan tinggal lama di Jakarta, mungkin sekitar 1 sampai 2 tahunan. Apate yang aku pilih adalah apate yang berlokasi di Jakarta Selatan dan merupakan pusat keramaian karena dekat dengan stasiun KRL, dan terdapat mall di dalam lingkungannya. 
Ketika itu kami juga memilih apate 2 kamar yang full furnish agar dapat mempermudah jika nantinya kami ingin pindah tempat tinggal lagi.

Tinggal di apate ternyata tidak seburuk yang dulu sering kubayangkan, individualis, hidup tidak teratur, lingkungan untuk anak yang tidak baik. Ternyata hidup di apate cukup menyenangkan  apalagi untuk yang bermata pencaharian melalui media digital, yang tidak terpaku di satu tempat dan dapat berpindah pindah seperti digital nomad. 

Kelebihan tinggal di apartemen:
1.Simple
Cocok untuk orang yang ga mau repot untuk urusan per rumahan (ex: teras, genting bocor, listrik konslet, binatang melata). Di apartemen kita jarang bahkan ga akan merasakan banjir  karena bagian bawah apate digunakan untuk kios jualan dan parkir mobil. Disini juga aku jarang menemukan cacing di kamar mandi, tikus di dapur, cicak di dinding. Paling cuma ada semut dan kecoa (bye bye serangga lainnya) yang kadang berlalu lalang di unit , tapi itu pun jarang kita jumpai. 

2.Keamanan
Karena disetiap bagian apartemen dipasang CCTV, dan juga ada security di masing masing tower yang berjaga selama 24 jam.
Karena aku orangnya pelupa, aku kadang lupa cabut kunci unit didepan pintu, atau ninggalin dompet di stroller yang disimpan diluar unit, alhamdulillah masih aman dan semoga selalu aman disini. 

3.Privasi lebih terjaga antara tetangga
Karena perputaran penyewa apate lumayan sering, jadi hanya beberapa tetangga yang aku kenal dan itupun bukan tetangga sebelah unit melainkan tetangga berbeda lantai atau bahkan berbeda tower. Jadi tidak ada istilah tetangga masa gitu di apate, karena jarang bagi tiap penghuni untuk mengenal dekat tetangga di unit sebelahnya .

4.lokasi strategis. 
Kebetulan apate tempatku tinggal berada di lokasi yang sangat strategis. Mulai dari tukang sayur sembako, foto copy, cafe, rumah makan, sekolah, bahkan mall pun ada didalam satu lingkungan. Semua kebutuhan para pemilik dan penyewa disediakan semua dalam kawasan apartemen ini. 

5. Fasilitas
Diapate ini disediakan berbagai fasilitas untuk para penghuninya, seperti kolam renang, gym, taman bermain, lapangan futsal, lapangan basket, semuanya ada. Fasilitas ini pun dirawat dan dijaga dengan sangat baik, untuk menjaga kenyamanan para penghuninya. 

6.Bencana banjir
Ini merupakan salah satu keuntungan tinggal di apate adalah tidak kena banjir.
Mungkin jika banjir hanya akan berdampak pada unit yang berada di bagian bawah atau di lantai dasar. Tapi untuk unit yang berada di lantai ke 2 dan selebihkan dijamin akan aman dari bencana ini. 

Kekurangan tinggal di apate
1.ga ada halaman
Disini memang ga ada halaman pribadi,  tapi disediakan halaman dan taman bermain bersama. Anak anak bebas bermin di halamannya selain itu mereka lebih mudah berkumpul dan bertemu temannya disana karena satu halaman, daripada memiliki halaman sendiri sendiri.tapi sayangnya untuk orang yang hobinya berkebun akan sulit menyalurkan hobi terebut jika tinggal di apate.
Adapun balkon di tiap unit hanya cukup untuk menjemur pakaian, dan tidak memungkinkan untuk menyimpan barang banyal di bagian balkon

2. Luas unit terbatas.
Luas unit lebih kecil dibandingkan dengan rumah umum kebanyakan, ditambah dengan barang yang banyak maka akan menambah kesan unit nya semakin sempit.

3. Bencana Alam
Kalau terjadi bencana alam seperti gempa, para penghuni apate hanya bisa pasrah apalagi yang tinggal di lantai atas. Jika terjadi bencana lift otomatis akan mati, mau tidak mau para penghuni harus menggunakan tangga darurat dimana semua orang menggunakan tangga tersebut, jadi harus mengantri untuk menyelamatkan diri turun tangga. 

4. Isu negatif
Karena aku tinggal di apate tengah kota dan sangat banyak unitnya, maka penghuninya pun sangat beragam.
karena nila setitik rusak susu sebelangga maka berita yang di ekspos untuk apate tempat tinggalku ini seringnya berita negatifnya saja. Tapi sebenarnya disini banyak juga kegiatan yang positif hanya saja kurang di ekspos

5. Biaya Sewa dan Maintenance lebih mahal
Menurutku ini sebanding dengan fasilitas yang didapat dan lokasi yang sangat strategis. Hanya saja untuk biaya listrik kadang tarifnya jauh diluar perkiraan, biasanya penghuni tinggal membayar biaya listrik perbulannya ke pigk pengelola, jadi kami tidak mendapat rincian pemakaiannya, hanya garis besar total biaya yang telah kami gunakan.  jika protes pun tidak terlalu di gubris oleh pihak pengelola. 


Itulah beberapa kelebihan dan kekurangan tinggal di apate menurutku, mungkin ada yang kurang atau yang lebih silahkan ditambahkan......

Lingkungan apate sendiri sebenarnya bagaimana tiap pribadi yang menentukan dan dari sisi apa dilihatnya, menurutku dimanapun aku keluargaku berada kami harus pandai memilih milih teman dan kerabat agar dapat tercipta lingkungan yang baik dalam bermasyarakat, dimanapun berada.
Disini aku sudah mendapatkan itu semua, ditambah lagi disini kegiatan untuk warga anak anaknya sangat banyak, mulai dari posyandu untuk ibu hamil dan balita, senam sehat lansia, donor darah, selain itu juga selalu ada acara peringatan seperti 17 agustusan, maulid nabi, hari kartini, halal bihalal lebaran. Belum lagi kegiatan untuk anak anak,

saat ini aku sangat betah tinggal di apate karena kebutuhan keluargaku pun terpenuhi disini. Kami tidak harus LDRan, dan juga jarak apate ke kantor pak suami cukup dekat, hal ini sangat penting dalam menentukan kami dalam memilih tempat tinggal. ❤